Dingin sekali malam ini, sunyi sekali. Tak ada
hingar bingar seperti saat itu kudapatkan. Kuceritakan sampai hal yang tak ada
pentingnya aku katakan. Saat itu yang aku rasa hanya ada aku dan dia yang
sama-sama ingin tahu luar dalam antara hidup kami. Tapi saat ini sungguh sangat
disayangkan, kurindukan suaranya yang selalu terrngiang dalam hati dan pikiran.
Kurindukan senyuman penuh arti yang membawaku ke bawah alam sadar hingga aku
masuk lagi kedalam dasar cinta yang sungguh sangat melelahkan . Terpikir lagi
ketika itu sungguh ku telah dibutakan cinta, cinta yang pernah kurasa tak ada
beda. Bodohnya aku masih selalu tak gunakan otak untuk kupikirkan semua dengan
matang, kubiarkan mereka merusak hati kubiarkan dia masuk ke hidup ini dan
biarkan semua permainkanku berulang-ulang kali.
Ah,
rindu sekali aku akan semua yang telah dia beri, meski tak banyak, meski tak
lama. Manis kata yang padahal sering kali aku dengar dari mereka yang ternyata
hanya ingin memberikan pemanis tanpa ada niat untuk menyimpan dan
memeliharanya. Aku lugu, atau bodoh hngga sampai saat ini masih saja bertanya
ada apa ? kenapa? Mengapa seperti ini ? sampai kapan akan begini ? padahal
sudah jelas padahal sudah terlihat dengan jelas ini sama. Ini pernah kudapatkan. Pernah kualami. Dan lemahnya aku
mau saja terpelihara dalam situasi seperti ini. Aku sadar aku tak akan selalu
dapatkan apa yang aku inginkan, aku sadar harus apa aku sekarang, harus bagaimana langkahku sekarang,
tapi tak semudah aku berkata sadar ketika aku harus membuang perasaan yang
sengaja dia undang. Tak semudah sepertiku membalikan sebuah halaman buku.
Karena aku seorang perasa, karena aku seorang pengingat, aku seorang yang tak
bisa remehkan cinta apalagi menganggap cinta itu hal yang mudah.
Saat
ini saja masih terngiang dalam benakku, ketika dia katakana cinta dan begitu
mudahnya dia katakan “hapus saja, simpan saja, dan hilangkan saja sayang iu.
Aku tak bisa teruskan ini, aku harus bisa membatasinya” tanpa aku tahu mengapa
harus sepereti itu ?. Lagi-lagi mereka
bilang aku bodoh, aku teledor, aku tak pakai otak sampai-sampai lagi-lagi aku
masuk ke zona ini. Aku tak tahu harus mengakhiri dengan cara seperti apa, meski
aku tahu ikhlas adalah hal yang penting, tapi aku tahuketika aku ikhlas akuu
tak akan mengatakan bahwa aku ikhlas. Biarkan sajalah waktu yyang menolongku,
biarkan saja niat yang menguatkanku. Niat untuk merubah semua rasa ini menjadi
hal yang biasa, niat untuk tahu dan berani ikhlas harus bagaimana. Sampai
akhirnya nanti aku akan katakan “aku
baik-baik saja. Aku terima dan aku mengerti dengan apa yang kau maksud saat
ini”.
Dan
ditambah aku harus terima kenyataan
bahwa hatinya sudah terganti, tak ada aku, tak
ada janji aku atau janji dia, atau yang sering kita sebut janji kita. Disana
ada sepenggal nama baru, hati yang baru dia tarik. Tak ada batas untuk aku tak
bisa melihatnya, aku dibiarkannya begitu saja tahu. Dia seorang wanita yang aku
juga mengenalnya dengan baik. Ah sudahlah, rasanya sudah lelahlah hati ini,
matilah rasa ini. Biarkan saja
seperti aliran sungai yang mengalir
hingga tiba saatnya sampai pada satu titik aku akan diam dan teus berjalan
tanpa ingat akan ini semua.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar